Yayasan Minhajus Sunnah

Manzilah Kalimah Tauhid pertemuan 8

  1. Ketundukan (Al-Inqiyad)

(Ketundukan yang menafikan sikap meninggalkan perintah Allah)

Al-inqiyād menurut para ulama adalah tunduk dan patuh sepenuhnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dengan menerima perintah dan larangan tanpa penolakan, baik secara lahir maupun batin. Ketundukan ini menafikan sikap berpaling, membangkang, atau meninggalkan kewajiban setelah kebenaran sampai kepada seseorang.

Allah berfirman dalam Surah Az-Zumar ayat 54:

وَأَنِيبُوا إِلَىٰ رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِن قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ
“Dan kembalilah kalian kepada Tuhan kalian dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepada kalian.”

Ayat ini menunjukkan bahwa kembali kepada Allah tidak sah tanpa disertai sikap berserah diri dan tunduk. Tobat yang benar bukan hanya penyesalan, tetapi harus terwujud dalam ketaatan nyata kepada Allah.

Allah juga berfirman dalam Surah An-Nisa ayat 125:

وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًا مِمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ
“Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang menyerahkan dirinya kepada Allah…”

Penyerahan diri dalam ayat ini menunjukkan hakikat Islam itu sendiri, yaitu kepasrahan total kepada Allah. Seorang mukmin tidak memilih-milih hukum, tidak menimbang wahyu dengan hawa nafsu, dan tidak menjadikan pendapat pribadi sebagai tandingan syariat.

Dalam Surah Luqman ayat 22, Allah berfirman:

وَمَنْ يُسْلِمْ وَجْهَهُ إِلَى اللَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىٰ
“Barang siapa menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia berbuat ihsan, maka sungguh ia telah berpegang pada buhul yang sangat kuat.”

Ayat ini menjelaskan bahwa iman yang kokoh lahir dari ketundukan yang disertai amal. Pegangan iman yang kuat bukan dibangun di atas klaim, tetapi di atas kepatuhan yang konsisten.

Allah menegaskan dalam Surah Al-Ahzab ayat 36:

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ
“Tidak patut bagi seorang mukmin dan mukminah, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu perkara, masih ada pilihan lain bagi mereka.”

Ayat ini menegaskan bahwa ketundukan adalah konsekuensi iman. Merasa berat atau enggan menerima hukum Allah bertentangan dengan hakikat al-inqiyād.

Dalam Surah Al-Qashash ayat 50, Allah berfirman:

فَإِن لَّمْ يَسْتَجِيبُوا لَكَ فَاعْلَمْ أَنَّمَا يَتَّبِعُونَ أَهْوَاءَهُمْ
“Jika mereka tidak menjawabmu, maka ketahuilah bahwa mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka.”

Ayat ini menjelaskan bahwa meninggalkan ketundukan kepada wahyu berarti tunduk kepada hawa nafsu. Tidak ada posisi tengah antara keduanya.

 

  1. Murni (Al-Ikhlas)

(Keikhlasan yang menafikan segala bentuk kesyirikan)

Al-ikhlāṣ menurut para ulama adalah memurnikan seluruh ibadah hanya untuk Allah semata, dengan menafikan segala bentuk kesyirikan, baik besar maupun kecil. Amal apa pun tidak akan diterima bila tidak dibangun di atas keikhlasan dan tauhid yang murni.

Allah berfirman dalam Surah Az-Zumar ayat 2–3:

أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ
“Ingatlah, hanya milik Allah agama yang murni.”

Ayat ini menegaskan bahwa agama yang diterima hanyalah yang murni dari syirik. Mencampurkan ibadah kepada Allah dengan tujuan selain-Nya, meskipun dengan dalih kebaikan, tetap merusak tauhid.

Dalam Surah Az-Zumar ayat 11, Allah berfirman:

قُلْ إِنِّي أُمِرْتُ أَنْ أَعْبُدَ اللَّهَ مُخْلِصًا لَّهُ الدِّينَ
“Katakanlah: Sesungguhnya aku diperintahkan untuk menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.”

Ayat ini menunjukkan bahwa ikhlas adalah perintah yang wajib. Bahkan Nabi diperintahkan untuk memurnikan ibadahnya, menandakan bahwa ikhlas adalah fondasi utama seluruh amal.

Allah juga berfirman dalam Surah Az-Zumar ayat 14:

قُلِ اللَّهَ أَعْبُدُ مُخْلِصًا لَّهُ دِينِي
“Katakanlah: Hanya Allah yang aku sembah dengan memurnikan ketaatanku kepada-Nya.”

Ayat ini adalah deklarasi tauhid yang tegas. Ikhlas bukan hanya keyakinan batin, tetapi juga arah hidup dan tujuan ibadah.

Adapun dalil yang benar terkait pembatalan amal karena syirik terdapat dalam Surah An-Nisa ayat 48:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik kepada-Nya.”

Ayat ini menunjukkan bahwa syirik adalah dosa terbesar dan paling berbahaya. Selama seseorang belum merealisasikan tauhid yang murni, amalnya berada dalam ancaman tidak diterima.

Rasulullah ﷺ bersabda:

أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ
“Orang yang paling bahagia dengan syafaatku pada hari kiamat adalah orang yang mengucapkan ‘lā ilāha illallāh’ dengan ikhlas dari hatinya.”
(HR. al-Bukhari)

Hadis ini menunjukkan bahwa syafaat Nabi ﷺ tidak diperoleh hanya dengan ucapan lisan, tetapi dengan tauhid yang ikhlas dan murni dari hati.

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

إِنَّ اللَّهَ قَدْ حَرَّمَ عَلَى النَّارِ مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ يَبْتَغِي بِذَلِكَ وَجْهَ اللَّهِ
“Sesungguhnya Allah telah mengharamkan neraka bagi orang yang mengucapkan ‘lā ilāha illallāh’ dengan itu ia mengharap wajah Allah.”
(HR. al-Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menegaskan bahwa kalimat tauhid hanya memberi manfaat bila diucapkan dengan ikhlas dan tujuan yang benar, yaitu mengharap wajah Allah semata, bukan dunia atau selain-Nya.

Disarikan dari Kajian Kitab
Manzilah Kalimah At-Tauhid Laa ilaaha Ilallah (Pertemuan ke-8)
Bersama Ustadz Mubarak Bamualim, Lc., M.H.I. Hafizahullah

Tinggalkan Komentar