Yayasan Minhajus Sunnah

Manzilah Kalimah Tauhid pertemuan 9

  1. Jujur (Ash-Shidq)

Berkata Hafidz al-Hakami rahimahullah –  kejujuran yang dimaksid adalah seseorang mengucapkan kalimat syahadat dengan jujur dari hatinya, jadi hatinya harus sesuai denga napa yang dia ucapkan dengan lisannya. Dan diantara dalil atas syarat ini adalah firman Allah:


الم ۝ أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ ۝ وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ ۝

Arti:
Alif Lām Mīm. Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, “Kami telah beriman,” sedangkan mereka tidak diuji? Dan sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka. Maka Allah pasti mengetahui siapa yang benar dan pasti mengetahui siapa yang dusta. (Surat Al-‘Ankabut ayat 1–3)


Berkata Imam al-Baghowiy : kalimat {أحسب الناس} adalah Istifham Inkariy, jadi maksudnya adalah “Manusia mengira Ketika sudah beriman, itu akan ditinggalkan begitu saja tanpa diberi ujian”, kemudian kalimat {أن يقولوا} maksudnya “Mereka mengatakan kami beriman kemudian mereka tidak diuji pada harta dan jiwa mereka? Sekali-kali tidak, Sungguh kami benar-banar akan menguji mereka agar jelas siapa diantara mereka yang Ikhlas dan yang Munafik, siapa yang jujur dan yang dusta”


Berka Imam Ibnu Katsir : kalimat {أحسب الناس أن يتركوا أن يقولوا آمنا وهم لا يفتنون} maknanya adalah sesungguhnya Allah yang Maha Suci lagi Maha Tinggi harus memberi ujian kepada hamba-hambanya yang beriman berdasarkan kadar keimanan mereka, sebagaimana yang disebutkan pada hadits shohih :

أَشَدُّ النَّاسِ بَلَاءً الْأَنْبِيَاءُ، ثُمَّ الصَّالِحُونَ، ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ، يُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَىٰ حَسَبِ دِينِهِ، فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلَاؤُهُ

“Manusia yang paling berat ujiannya adalah para nabi, kemudian orang-orang saleh, lalu orang-orang yang semisal dengan mereka dan semisalnya lagi. Seseorang diuji sesuai dengan kadar agamanya. Jika agamanya kuat, maka ujiannya semakin berat.”

Demikian pula Allah Ta’ala berfirman tentang kondisi orang-orang munafik yang mengucapkan kalimat syahadat akan tetapi mereka dusta :

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ آمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالْيَوْمِ الْآخِرِ وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِينَ ۝ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلَّا أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ ۝ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ ۝

Artinya:

Dan di antara manusia ada yang berkata, “Kami beriman kepada Allah dan hari akhir,” padahal mereka itu sebenarnya bukan orang-orang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang beriman, padahal mereka hanya menipu diri mereka sendiri tanpa mereka sadari. Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah penyakitnya itu; dan bagi mereka azab yang pedih karena mereka berdusta. (Surat Al-Baqarah ayat 8-10)

Dan hadits dari Muadz bin Jabal radiyallahuanhu dari Nabi shalallahualaihi wasallam beliau bersabda : “Tidaklah seseorang bersaksi bahwasannya tidak ada sesembahan yang hak disembah selain Allah dan bahwasannya Muhammad adalah utusan Allah, jujur dari hatinya, kecuali Allah akan mengharamkan atasnya api neraka” Maka disyaratkan bagi yang ingin selamat dari api neraka agar mengucapkan kalimat syahadat dengan jujur dari hatinya, dan tidak akan memberinya manfaat jika hanya sekedar ucapan tanpa keselarasan dengan apa yang ada di hatinya. Dan dari sini juga syarat kalimat tauhid/syahadat adalah jujur yang lawan katanya adalah dusta, Allah azza wa jalla berfirman :

إِذَا جَاءَكَ الْمُنَافِقُونَ قَالُوا نَشْهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَكَاذِبُونَ ۝

Arti:

Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata, “Kami bersaksi bahwa engkau benar-benar Rasul Allah.” Allah mengetahui bahwa engkau benar-benar Rasul-Nya, dan Allah bersaksi bahwa orang-orang munafik itu benar-benar pendusta. (Surat Al-Munafiqun ayat 1)

Dan hadits dari Thalhah bin Ubaidillah radiyallahuanhu beliau berkata : Seorang arab badui pernah datang menemui Rasulullah shalallahualaihiwasallam rambutnya kusut kemudian berkata :”Wahai Rasulullah beritahukanlah aku apa yang Allah wajibkan kepadaku dari shalat?”, Maka Rasulullah menjawab :”Shalat lima waktu kecuali jika engkau ingin menambah sholat(nafilah/sunnah)”, kemudian orang badui tadi berkata lagi :”beritahukanlah aku apa yang Allah wajibkan kepadaku dari puasa?”, Maka Rasulullah menjawab :”Puasa di bulan Ramadhan kecuali jika engkau ingin menambah puasa(sunnah)”, orang badui tadi berkata lagi :” beritahukanlah aku apa yang Allah wajibkan kepadaku dari zakat?”, sahabat Thalhah berkata :”kemudian Rasulullah shalallahualaihiwasallam mengatakan kepada beliau syariat-syariat islam (keterangan-keterangan tentang zakat)”, orang badui tadi berkata :”Demi zat yang telah memuliakanmu, aku tidak akan menambah sedikitpun, dan aku pun tidak akan mengurangi sedikitpun dari apa yang Allah wajibkan atasku”, maka Rasulullah shalallahualaihiwasallam bersabda :”Orang ini (orang badui tadi) akan beruntung jika jujur, atau dia akan masuk surga jika jujur”

 

  1. Cinta (Al-Mahabbah)

Cinta yang dimaksud adalah cinta kepada kalimat ini (kalimat tauhid) dan apa-apa yang menjadi tuntutan kepada diri orang yang mengucapkannya (tauhid dan berlepas diri dari kesyirikan) dan apa yang ditunjukan oleh kalimat ini, dan mencintai orang-orang yang mengucapkan kalimat tauhid, dan orang-orang yang mengamalkannya, dan orang yang berpegang teguh dengannya, dan benci kepada semua yang berlawanan dengannya. Dalil terkait cinta adalah syarat kalimat tauhid adalah firman Allah azza wa jalla :

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ ۖ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ ۗ

Arti:

Dan di antara manusia ada orang-orang yang menjadikan tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman, cinta mereka kepada Allah sangatlah besar. (Surat Al-Baqarah ayat 165)

Makna yang benar dari firman Allah {والذين آمنوا أشد حبا لله} adalah bahwa orang-orang yang beriman itu rasa cintanya kepada Allah lebih besar daripada rasa cinta penyembah berhala kepada berhala mereka. Dan karna rasa cinta mereka (mukminin) kepada Allah, serta kesempurnaan pengetahuan mereka tentang Allah, dan pemuliaan mereka, tauhid mereka kepada Allah, maka mereka tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu, akan tetapi mereka menyembah hanya kepada Allah, mereka tawakkal hanya kepada Allah, dan mereka hanya bersandar/memasrahkan kepada Allah dalam semua urusan mereka. Inti dari ayat ini adalah bahwa cinta adalah ibadah yang agung, dan seseorang tidaklah beriman kecuali harus mencintai Allah subhanahu wata’ala.

Allah ta’ala berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ ۝

Arti:

Wahai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kamu murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya. (Surat Al-Maidah ayat 54)

 

Dan diantara tanda cintanya hamba kepada Rabb-nya :

  1. Mendahulukan cinta kepada Rabb-nya walaupun menyelisihi hawa nafsunya.
  2. Membenci apa yang dibenci Rabb-nya walaupun hawa nafsunya cenderung kepada hal tersebut..
  3. Berwala’/loyal kepada orang-orang yang dicintai Allah dan Rasulnya, dan membenci orang-orang yang memusuhi Allah dan Rasulnya
  4. Mengikuti Rasulullah shalallahualaihiwasallam, menempuh jejak beliau, dan menerima petunjuk dari beliau.

Semua tanda-tanda ini adalah syarat dalm cinta, tidak bisa dibayangkan seseorang mengatakan cinta tapi tidak memenuhi syarat-syarat ini. Allah ta’ala berfirman :

أَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ ۖ أَفَأَنْتَ تَكُونُ عَلَيْهِ وَكِيلًا

Arti:

Maka pernahkah engkau melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya?

(Surat Al-Furqon ayat 43)

أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَىٰ عِلْمٍ

Arti:
Apakah engkau akan menjadi pelindung baginya? Dan pernahkah engkau melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, lalu Allah menyesatkannya berdasarkan ilmu?

(Surat Al-Jatsiyah ayat 23)

Maka setiap orang yang menyekutukan Allah itu hakikatnya adalah hamba dari hawa nafsunya, bahkan setiap orang yang bermaksiat kepada Allah, itu sebabnya karna dia mendahulukan hawa nafsunya dari perintah dan larangan Allah.

Dan dari sunnah/hadits, dari Anas bin Malik radiyallahuanhu, dari Nabi shalallahualaihiwasallam beliau bersabda :”Tiga hal yang 3 hal itu jika ada dalam diri seseorang, maka dia akan merasakan manisnya/lezatnya iman, 1. Allah dan rasulnya adalah yang paling dia cintai dari selainnya, 2. Seorang cinta kepada saudaranya karena Allah, 3. Seorang benci Kembali kepada kekufuran setelah Allah selamatkan dia dari kekufuran tersebut, sebagaimana dia tidak mau dilemparkan kedalam api”

Kemudian Hadits dari Abu Hurairah radiyallahuanhuma beliau berkata : Rasulullah shalallahualaihiwasallam bersabda :”Tidak beriman salah seorang dari kalian sampai aku menjadi yang paling dia cintai dari anaknya, dari orang tuanya, dan dari manusia semuanya”.

 

Disarikan dari Kajian Kitab
Manzilah Kalimah At-Tauhid Laa ilaaha Ilallah (Pertemuan ke-9)
Bersama Ustadz Mubarak Bamualim, Lc., M.H.I. Hafizahullah

Tinggalkan Komentar