
Ibadah qurban merupakan syi’ar agung dalam Islam yang mengandung nilai tauhid, keikhlasan, dan kepedulian sosial. Namun di era sosial media, ibadah ini terkadang bergeser dari tujuan utamanya. Ada yang menjadikan qurban sebagai ajang pencitraan, mencari pujian, atau gengsi di hadapan manusia. Padahal hakikat qurban adalah mendekatkan diri kepada Allah dengan penuh ketakwaan.
Perintah Menyembelih Qurban
Allah Ta’ala berfirman:
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْۗ ٢
“Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu dan berqurbanlah.” (QS. Al-Kautsar: 2)
Ayat ini menunjukkan perintah untuk berqurban sebagai bentuk ibadah kepada Allah semata.
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
مَا عَمِلَ ابْنُ آدَمَ يَوْمَ النَّحْرِ عَمَلًا أَحَبَّ إِلَى اللَّهِ مِنْ إِهْرَاقِ الدَّمِز.
“Tidak ada amalan anak Adam pada hari Nahr yang lebih dicintai Allah selain menumpahkan darah (hewan qurban).” (HR. Tirmidzi)
Hukum Berqurban bagi Muslim
Mayoritas ulama dari kalangan Malikiyah, Syafi’iyah, dan Hanabilah berpendapat bahwa qurban hukumnya sunnah muakkadah (sunnah yang sangat dianjurkan) bagi yang mampu.
Dalilnya adalah sabda Nabi ﷺ:
إِذَا دَخَلَتِ الْعَشْرُ، وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّيَ، فَلَا يَمَسَّ مِنْ شَعْرِهِ وَبَشَرِهِ شَيْئًا
“Apabila telah masuk sepuluh hari pertama Dzulhijjah dan salah seorang dari kalian ingin berqurban, maka janganlah ia memotong rambut dan kukunya sedikit pun.” (HR. Muslim)
Dalam hadits ini Nabi ﷺ mengatakan “ingin berqurban”, menunjukkan bahwa qurban bukan kewajiban mutlak, namun sangat dianjurkan bagi yang mampu.
Meski demikian, sebagian ulama berpendapat wajib bagi orang yang mampu berdasarkan firman Allah:
“Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu dan berqurbanlah.” (QS. Al-Kautsar: 2)
Namun pendapat yang lebih kuat menurut mayoritas ulama adalah sunnah muakkadah.
Tujuan Berqurban
- Merealisasikan Penghambaan kepada Allah
Qurban adalah bentuk ketundukan dan ibadah kepada Allah semata.
Allah berfirman:
قُلْ اِنَّ صَلَاتِيْ وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِيْ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ ١٦٢
“Katakanlah: sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah Rabb semesta alam.” (QS. Al-An’am: 162)
- Mengingat Nikmat dan Anugerah dari Allah
Allah memerintahkan agar kaum muslimin mengingat nikmat-Nya ketika menyembelih qurban.
فَكُلُوْا مِنْهَا وَاَطْعِمُوا الْقَانِعَ وَالْمُعْتَرَّۗ.
“Makanlah sebagiannya dan berikanlah kepada orang yang merasa cukup dan orang yang meminta.” (QS. Al-Hajj: 36)
- Menghidupkan Sunnah Nabi Ibrahim dan Nabi Muhammad ﷺ
Qurban merupakan sunnah para nabi, khususnya Nabi Ibrahim ‘alaihis salam ketika diperintahkan menyembelih putranya Ismail.
Rasulullah ﷺ juga rutin berqurban setiap tahun.
- Membantu Orang Fakir dan Membutuhkan
Daging qurban dibagikan kepada kaum fakir sehingga mereka turut merasakan kebahagiaan hari raya.
Allah Ta’ala berfirman:
فَكُلُوْا مِنْهَا وَاَطْعِمُوا الْبَاۤىِٕسَ الْفَقِيْرَۖ ٢٨
“Maka makanlah sebagiannya dan berilah makan orang yang sengsara lagi fakir.” (QS. Al-Hajj: 28)
- Mengajarkan Keikhlasan dan Mentauhidkan Allah
Qurban mendidik seorang muslim agar ikhlas hanya mengharap ridha Allah, bukan pujian manusia. Allah berfirman:
لَنْ يَّنَالَ اللّٰهَ لُحُوْمُهَا وَلَا دِمَاۤؤُهَا وَلٰكِنْ يَّنَالُهُ التَّقْوٰى مِنْكُمْۗ
“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian.” (QS. Al-Hajj: 37)
Hal yang Perlu Diwaspadai di Era Sosial Media
- Ibadah Diubah Menjadi Konten sosial media
Sebagian orang lebih sibuk merekam, memamerkan ukuran hewan, atau mencari perhatian di sosial media daripada menghadirkan keikhlasan dalam ibadahnya.
Padahal Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
- Perangkap Riya’
Riya’ adalah melakukan ibadah agar dipuji manusia. Ini termasuk dosa yang sangat berbahaya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ الْأَصْغَرُقَالُوا: وَمَا الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: الرِّيَاء.
“Yang paling aku khawatirkan atas kalian adalah syirik kecil.” Para sahabat bertanya, “Apa itu syirik kecil wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Riya’.” (HR. Ahmad)
Tanda-Tanda Qurban Karena Gengsi
- Merasa sedih jika tidak dipuji orang lain.
- Lebih semangat ketika dilihat manusia.
- Memaksakan diri berhutang atau berlebihan demi penilaian manusia.
Padahal Allah tidak melihat mahal atau besarnya hewan, tetapi melihat ketakwaan dan keikhlasan hamba-Nya.
Cara Menjaga Ketaqwaan dalam Berqurban di Era Sosmed
- Meluruskan Niat dan Menghindari Riya’
Sebelum berqurban, hendaknya seorang muslim memeriksa niatnya: apakah benar karena Allah atau demi pujian manusia.
- Mengingat bahwa Allah Menilai Hati
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ
“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Allah melihat hati dan amal kalian.” (HR. Muslim)
- Tidak Semua Hal Harus Diposting di Sosial Media
Menyembunyikan amal terkadang lebih menjaga keikhlasan. Jika diposting pun hendaknya benar-benar untuk maslahat dan bukan mencari pujian.
Penutup
Hakikat qurban bukanlah tentang siapa yang paling mahal hewannya, paling besar sapinya, atau paling ramai dipuji manusia. Esensi sebenarnya dalam qurban adalah ketaqwaan.
Allah Ta’ala berfirman: “Tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian.” (QS. Al-Hajj: 37)
Semoga Allah menjadikan ibadah qurban kita sebagai amal yang ikhlas, diterima, dan semakin mendekatkan diri kepada-Nya. Aamiin.
Artikel ini disarikan dari kajian karyawan Yayasan Bersama Al-Ustadz Abdul Basith, Lc., M.Pd. حفظه الله