
Keutamaan dan Tempat-Tempat yang Disunnahkan Membaca Kalimat Tauhid (Lā Ilāha Illallāh)
Pendahuluan: Keagungan Kalimat Tauhid
Kalimat لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ (Lā ilāha illallāh) adalah kalimat paling agung di alam semesta. Kedudukan dan keutamaannya melampaui segala bentuk pujian dan sifat yang dapat digambarkan oleh lisan.
Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أَفْضَلُ الذِّكْرِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَأَفْضَلُ الدُّعَاءِ الْحَمْدُ لِلَّهِ
Artinya: “Dzikir yang paling utama adalah Lā ilāha illallāh (tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah), dan doa yang paling utama adalah Alhamdulillāh (segala puji bagi Allah).” HR. At-Tirmidzi, dihasankan oleh Al-Albani.
Mengapa Kalimat Ini Menjadi Dzikir yang Paling Utama?
Sebagaimana dijelaskan oleh Al-Mubarakfuri rahimahullah dalam Tuhfatul Ahwadzi: Merupakan kalimat tauhid yang tidak ada tandingan baginya.
- Merupakan pembeda nyata antara kekufuran dan keimanan.
- Paling sempurna dalam menyatukan hati hanya kepada Allah serta menafikan keterikatan pada selain-Nya.
- Paling kuat dalam mensucikan jiwa (tazkiyatun nafs), membersihkan batin dari bisikan buruk, dan mengusir setan.
Oleh karena itu, hendaknya setiap mukmin senantiasa memperbanyak dzikir ini di setiap waktu dan tempat—baik saat sibuk maupun luang, berdiri, duduk, safar, maupun bermukim—serta meresapi makna dan tujuannya.
7 Waktu & Tempat yang Disunnahkan Membaca Kalimat Lā Ilāha Illallāh
Meskipun dianjurkan secara mutlak, terdapat beberapa kondisi dan waktu khusus yang memiliki penekanan dalil syar’i:
- Setelah Berwudhu
Dari Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ يَتَوَضَّأُ فَيُبْلِغُ – أَوْ فَيُسْبِغُ – الْوُضُوءَ، ثُمَّ يَقُولُ: أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، إِلَّا فُتِحَتْ لَهُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ الثَّمَانِيَةُ، يَدْخُلُ مِنْ أَيِّهَا شَاءَ
Artinya: “Tidaklah salah seorang di antara kalian berwudhu lalu menyempurnakan wudhunya, kemudian membaca: ‘Asyhadu allā ilāha illallāh wa anna Muhammadan ‘abduhū wa rasūluh’ (Aku bersaksi tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya), melainkan dibukakan baginya delapan pintu surga, ia dapat masuk dari pintu mana saja yang ia kehendaki.” (HR. Muslim no. 234)
(Dalam riwayat At-Tirmidzi terdapat tambahan doa:
اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنَ التَّوَّابِينَ، وَاجْعَلْنِي مِنَ الْمُتَطَهِّرِينَ
- Ketika Terbangun / Terjaga di Tengah Malam (Ta’ārra minal Lail)
Dari Ubadah bin Ash-Shamit radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ تَعَارَّ مِنَ اللَّيْلِ، فَقَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، الْحَمْدُ لِلَّهِ، وَسُبْحَانَ اللهِ، وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ، ثُمَّ قَالَ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي، أَوْ دَعَا، اسْتُجِيبَ لَهُ، فَإِنْ تَوَضَّأَ وَصَلَّى قُبِلَتْ صَلَاتُهُ
Artinya: “Barang siapa yang terbangun di malam hari lalu mengucapkan: ‘Lā ilāha illallāhu wahdahū lā syarīka lah, lahul-mulku wa lahul-hamdu wa huwa ‘alā kulli syai’in qadīr. Alhamdulillāh, wa subhānallāh, wa lā ilāha illallāh, wallāhu akbar, wa lā haula wa lā quwwata illā billāh’, kemudian berdoa: ‘Ya Allah ampunilah aku’ atau memanjatkan doa, niscaya doanya dikabulkan. Jika ia berwudhu lalu shalat, maka shalatnya diterima.” (HR. Al-Bukhari no. 1154)
- Di Awal Pagi Hari (Dzikir Pagi) Sebanyak 100 Kali
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، فِي يَوْمٍ – مِائَةَ مَرَّةٍ –، كَانَتْ لَهُ عَدْلَ عَشْرِ رِقَابٍ، وَكُتِبَتْ لَهُ مِائَةُ حَسَنَةٍ، وَمُحِيَتْ عَنْهُ مِائَةُ سَيِّئَةٍ، وَكَانَتْ لَهُ حِرْزًا مِنَ الشَّيْطَانِ يَوْمَهُ ذَلِكَ حَتَّى يُمْسِيَ، وَلَمْ يَأْتِ أَحَدٌ بِأَفْضَلَ مِمَّا جَاءَ بِهِ، إِلَّا أَحَدٌ عَمِلَ أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ
Artinya: “Barang siapa mengucapkan: ‘Lā ilāha illallāh wahdahū lā syarīka lah, lahul-mulku wa lahul-hamd wa huwa ‘alā kulli syai’in qadīr’ sebanyak 100 kali dalam sehari, maka baginya pahala setara memerdekakan 10 orang budak, dicatat baginya 100 kebaikan, dihapus darinya 100 keburukan, dan ia terlindungi dari godaan setan pada hari itu hingga petang hari…” (HR. Al-Bukhari & Muslim)
- Setelah Salam dari Shalat Fardhu (Dzikir Ba’da Shalat)
Dari Al-Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca setiap selesai shalat wajib:
لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، اللَّهُمَّ لَا مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ، وَلَا مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ، وَلَا يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ
Artinya: “Tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya segala kerajaan dan bagi-Nya segala puji, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Ya Allah, tidak ada yang dapat menghalangi apa yang Engkau berikan, dan tidak ada yang dapat memberi apa yang Engkau halangi, serta tidak berguna kekayaan/kemuliaan bagi pemiliknya di hadapan-Mu.” (HR. Al-Bukhari no. 6330, Muslim no. 593)
- Ketika Tertimpa Kesusahan, Kesedihan, dan Kegelisahan (Al-Karb)
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca doa ini ketika mengalami kesulitan (karb):
لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ الْعَظِيمُ الْحَلِيمُ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ رَبُّ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ
Artinya: “Tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah Yang Maha Agung lagi Maha Penyantun. Tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah, Rabb langit dan bumi, serta Rabb Arsy yang agung.” (HR. Al-Bukhari no. 6345, Muslim no. 2730)
- Saat Berdiri di Atas Bukit Shafa dan Marwah (Ketika Melaksanakan Sa’i)
Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, menceritakan tata cara manasik Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
فَرَقَى وَوَحَّدَ اللهَ وَكَبَّرَهُ، وَقَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ، أَنْجَزَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ
Artinya: “Nabi menaiki bukit Shafa lalu mentauhidkan Allah dan bertakbir, kemudian beliau mengucapkan: ‘Lā ilāha illallāh wahdahū lā syarīka lah, lahul-mulku wa lahul-hamdu wa huwa ‘alā kulli syai’in qadīr. Lā ilāha illallāhu wahdah, anjaza wa’dah, wa nashara ‘abdah, wa hazamal-ahzāba wahdah’ (Tiada sesembahan selain Allah semata tanpa sekutu, milik-Nya segala kerajaan dan pujian, Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Tiada sesembahan selain Allah semata, Dia menepati janji-Nya, menolong hamba-Nya, dan mengalahkan pasukan musuh sendirian).” (HR. Muslim)
- Saat Wukuf pada Hari Arafah
Dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:
أَفْضَلُ مَا قُلْتُ أَنَا وَالنَّبِيُّونَ عَشِيَّةَ عَرَفَةَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Artinya: “Sebaik-baik ucapan yang aku dan para nabi sebelumku ucapkan pada sore hari Arafah adalah: ‘Lā ilāha illallāh wahdahū lā syarīka lah, lahul-mulku wa lahul-hamdu wa huwa ‘alā kulli syai’in qadīr’ (Tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, milik-Nya segala kerajaan dan pujian, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu).” (HR. At-Thabrani, dishahihkan/dihasankan oleh Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah no. 1503; dan dalam Muwaththa’ Malik)
Kesimpulan
Membasahi lisan dengan kalimat tauhid Lā ilāha illallāh mendatangkan ketenangan hati, pengampunan dosa, dan perlindungan dari godaan setan. Membaca dzikir ini pada waktu-waktu yang telah disyariatkan di atas akan semakin melipatgandakan pahala dan keutamaannya di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Disarikan dari Kajian Kitab
Manzilah Kalimah At-Tauhid Laa ilaaha Ilallah (Pertemuan ke-14)
Bersama Ustadz Mubarak Bamualim, Lc., M.H.I. Hafizahullah